-->

Ramadan 12 tahun, Saksi Mata Yang Mengabadikan Tetangganya Gantung Diri


BALIKPAPAN Rabu 13 Desember 2017 06:02


Tribunkaltim-Bagi anak melihat tubuh seorang pria dewasa yang lehernya terikat tali jemuran, kakinya tak menapak tanah melayang dan kejang-kejang, sungguh bukan pemandangan yang baik alias menyeramkan.
Seorang bocah bernama Muhammad Ramadhan (12) sampai lari terbirit-birit ke dalam rumahnya, lalu masuk ke dalam toilet.
"Langsung sembunyi di kamar mandi, gemetaran dia," kata Haeruddin selaku orangtua kepada Tribunkaltim.co, Selasa (12/12/2017).
Belakangan diketahui, Muhammad Ramadhan adalah bocah yang mengabadikan gambar Samsir sesaat sebelum benar-benar gantung diri.
Ia pun terpaksa dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi kunci kejadian.
Usai dimintai keterangan polisi, anaknya yang duduk di bangku kelas VI SD tersebut tak seperti biasanya.

Ia memilih berdiam diri, tak banyak berbicara. Bahkan ia baru bisa memejamkan mata saar adzan subub berkumandang.
"Sampai pagi gak bisa tidur dia. Pas Adzan subuh baru tidur. Itupun paginya dia bangun paling pertama di rumah," bebernya.
Kendati demikian Haeruddin tetap menguatkan anaknya tersebut, bahkan ia menyuruh anaknya tetap peegi ke sekolah untuk melupakan kejadian yang ia alami, Senin malam sebelumnya.
"Kalau seandainya nanti malam begitu lagi (gemetar), saya minta petugas Polsek minta ijinkan ke sekolah. Mau saya bawa ke Penajam tempat kakak saya sementara waktu," katanya.
Pemberitaan sebelumnya, sebelum Samsir mengakhiri hidupnya dengan tali jemuran di bagian belakang rumah, ia sempat memanggil beberapa bocah untuk mengabadikan gambar melalui ponselnya.
Saat ditemui Tribunkaltim.co, Haeruddin (52) orangtua salah seorang bocah yang jadi saksi kunci membeberkan kejadian tragis itu, Selasa (12/12/2017).
"Anak saya yang foto almarhum sebelum dia gantung diri," kata Haeruddin yang juga merupakan Ketua Seksi Keamanan RT 28, Sepinggan, Balikpapan.
Pada saat itu, anaknya bernama Muhammad Ramadhan (12) berada di luar rumah bersama kedua temannya.

Tiba-tiba Samsir memanggil para bocah yang belakangan diketahui masih duduk di bangku sekolah dasar.
Korban meminta bocah tersebut masuk ke dalam rumah, bunyinya meminta pertolongan. Ramadhan bersama rekannya akhirnya masuk ke dalam rumah.
Mereka diajak ke bagian belakang rumah. Di sana tali jemuran sudah bergantung, persis di bawahnya terdapat kursi. Bocah tersebut tentu kaget melihat hal itu.
Tiba-tiba Samsir memberikan telpon selulernya kepada bocah tersebut. Kemudian tanpa mengenakan baju ia naik ke atas kursi, lalu memegang tali jemuran yang ujungnya berbentuk lingkaran dengan kedua tangannya.
Kontan hal tersebut membuat bocah SD tersebut bertanya-tanya. Sampai pada momen dimana Samsir memasukkan lehernya ke dalam tali tersebut. Semakinlah bocah itu ketakutan, namun Samsir mengatakan kepada mereka bahwa apa yang ia lakukan hanya main-main.
"Anak saya dipanggil alamarhum, tolong foto saya katanya (Samsir). Gak apa, ini buat nakut-nakutin istri saya. Jadi difotolah sama anak saya," kata Haeruddin.

Usai mengabadikan foto, anak Haeruddin menaruh telepon seluler tersebut di atas meja. Kemudian ia pergi keluar, lantaran ingin buang air kecil. Sementara rekan lainnya masih di dalam rumah.
Belum jauh dari pintu rumah korban, anak itu mendengar teriakan rekannya yang masih ada di dalam. Ternyata di dalam Samsir menendang kursi yang diinjaknya, otomatis tali yang melingkar di lehernya menjeratnya.
Permintaan mengabadikan gambat dirinya persis di depan tali yang merenggut nyawanya menjadi kata-kata terakhir Samsir. Kaki Samsir melayang di udara tanpa pijakan, bocah yang melihat itu langsung teriak dan keluar rumah mencari pertolongan.
"Anak lain yang di dalam itu lihat. Kejang-kejang bilang dia (Samsir) sudah. Namanya anak-anak takut semua, lari teriak-teriak mereka. Mendengar itu warga langsung lapor RT. Ndak berani langsung masuk," tuturnya.

utilityone

Back To Top